Father's Camp : Momen Bonding Ayah-Anak
Wahyudi
25 November 2025

Father’s Camp adalah kegiatan yang dirancang untuk mempererat hubungan antara ayah dan anak melalui berbagai aktivitas bersama di alam terbuka ataupun lingkungan yang terstruktur
Di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas harian, waktu berkualitas antara ayah dan anak sering kali menjadi hal yang langka. Padahal, kehadiran ayah yang aktif dan hangat memiliki peran besar dalam perkembangan emosi, karakter, dan kepercayaan diri anak. Father’s Camp hadir sebagai ruang khusus untuk menghadirkan kembali kedekatan itu.
Apa Itu Father’s Camp?
Father’s Camp adalah kegiatan yang dirancang untuk mempererat hubungan antara ayah dan anak melalui berbagai aktivitas bersama di alam terbuka ataupun lingkungan yang terstruktur. Selama kegiatan berlangsung, ayah dan anak diajak untuk terlibat dalam permainan, diskusi, tantangan, dan sesi refleksi yang dapat memperdalam koneksi emosional mereka.
Mengapa Father’s Camp Penting?
Kegiatan ini memutus sejenak rutinitas dan distraksi teknologi. Ayah dapat memberikan perhatian penuh pada anak, sesuatu yang sangat dihargai oleh anak dari segala usia.
Melalui aktivitas berpasangan, ayah dan anak belajar saling mendengarkan, memahami, dan berkomunikasi secara lebih terbuka. Momen ini dapat menjadi awal hubungan yang lebih hangat di rumah.
Ketika ayah terlibat langsung dalam permainan, bimbingan, dan tantangan, anak merasa lebih dihargai dan didukung. Ini meningkatkan rasa percaya diri serta keberanian anak dalam mengambil keputusan.
Pengalaman seperti mendirikan tenda, memasak bersama, menjelajahi alam, atau memenangkan tantangan bersama akan menjadi memori berharga yang melekat hingga dewasa.
Tags:
Artikel Terkait

BBO SATT: Saat Orang Tua Hadir Menjadi Guru, Pendidikan Tumbuh dalam Kebersamaan
Program BBO (Belajar Bersama Orang Tua) di Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT) menjadi wadah keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak yang dilaksanakan setiap tiga pekan sekali. Orang tua secara bergiliran berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman melalui berbagai kegiatan seperti memasak, permainan tradisional, game, hingga art & creativity, sekaligus berperan sebagai “guru tamu” di sekolah. Kegiatan ini diharapkan memperkuat sinergi dan bonding antara orang tua dan sekolah, serta memberi kesempatan kepada orang tua untuk melihat langsung lingkungan belajar anak. Sebagai komunitas belajar, SATT meyakini bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama yang melibatkan siswa, guru, orang tua, dan seluruh unsur komunitas

SATT Gelar Sesi Konseling untuk Mendamaikan Siswa dan Mencegah Perundungan di Sekolah
Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT) menggelar sesi konseling bersama dua siswa yang mengalami perselisihan. Kegiatan yang dilakukan saat jam istirahat ini melibatkan Wakasek Kesiswaan, Kepala Sekolah, dan Direktur SATT, setelah mendapat informasi dari wali kelas. Melalui dialog dan pendampingan, siswa diajak untuk saling memahami, memaafkan, menghargai teman, serta tidak melakukan ejekan yang dapat menyakiti perasaan. SATT juga mengingatkan bahwa konflik dan candaan berlebihan dapat terjadi dalam pertemanan anak usia SD. Namun, setiap tindakan yang merugikan, membahayakan, atau telah melampaui batas harus segera ditangani. Sekolah berharap komunikasi dan kerja sama antara sekolah, anak, dan orang tua terus terjalin agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

That's a wrap for Open Mind 2026.. Semoga bermanfaat bagi semuanya..
Baca selengkapnya...
